Yang pertama : ketika aku berupaya meninggikan diri sendiri dengan mengeksploitasi yang lemah.
Yang kedua : ketika aku timpang dihadapan mereka yang lumpuh.
Yang ketiga : ketika setelah diberikan pilihan aku memilih yang mudah ketimbang yang sulit.
Yang keempat : ketika aku membuat sesuatu kekeliruan kuhibur diri sendiri dengan kekeliruan orang lain.
Yang kelima : ketika aku bersikap jinak ketakutan lalu mengklaim diriku kuat dalam kesabaran.
Yang keenam : ketika kuangkat pakaianku untuk menghindari lumpur kehidupan.
Yang ketujuh : ketika aku berdiri menyanyikan kidung bagi Tuhan dan menganggap hanya itulah satu-satunya nyanyian kebajikan.
Oleh : Kahlil Gibran
Tags: kahlil gibran, kidung
2012 kiamat..??? bentar lagi dong..! hmm…
kalau sy pikir2, lebaynya kiamat 2012 salah satu penyebabnya adalah internet. gimana ngk, wong belum kiamat aja statusnya sudah kiamat. cpd…
sebenernya kiamat sudah terjadi beberapa kali di bumi, itu dijelaskan dalam teori evolusi bumi. so.. sudah bukan hal yang baru buat bumi, tapi merupakan hal yang menakutkan buat isinya ![]()
saya sendiri kurang setuju kiamat ini terlalu “dibangga-banggakan”, sampai2 harus ada yg bikin filmnya. poin nya dimana? yang ada kita jadi mikirin kiamat, dan melupakan hal-hal yang ada di ujung hidung.
katakanlah benar ramalan kiamat itu, trus kita mau apa? buat kapal induk segede gambreng? ya kalau kiamatnya spt difilm, yg ada skenarionya. wong yang tau skenario kiamat cuma Tuhan! mau tiba-tiba sok deket sama Tuhan, lupa cari kehidupan dan menghidupi keluarga, malah itu sudah salah duluan sebelum kiamat ![]()
Tags: cari makan, ramalan kiamat
Tak apa bus kami tidak melewati rute seperti biasanya
Tak apa kami yang harus berjalan kaki memasuki kawasan kerja kami
Tak apa kami yang haru terpinggirkan ketika suara sirine itu mendekat
Tak apa kami tidak bisa dekat dengan para pemimpinnya
Tak apa kami dituduh teroris ketika hanya membawa seonggok rumput pakan sapi kami
Tak apa kami yang selalu ramah, tiba-tiba mendapati wajah kaku para petugas
Tak apa kami ….
Kami memang bukan siapa-siapa dibalik acara akbar itu
Kami hanya masyarakat biasa yang hidup biasa-biasa saja
Walau duit pajak kami ada disana
Kami hanya bisa berdoa
Semoga acara itu dapat berjalan dengan lancar
Yang kelak dapat meningkatkan taraf kehidupan kami di masa yang akan datang
Amin…. ![]()
Tags: akan datang, disana
Sore ini, Ibu menerima kabar yang cukup mengagetkan dari adik kandung Ibu di kampung. Sebuah kabar duka, kabar meninggalnya Jro Mangku Kotá. Seorang sulinggih sekaligus seorang Guru bagi masyarakat Payangan, kampung asal Ibu.
Seketika kabar duka inipun menjadi perhatian saya, mengingat jasa-jasa beliau yang senantiasa menyempatkan waktunya untuk membantu prosesi upacara agama di keluarga saya. Terakhir, beliaulah yang “muput” upacara pernikahan Adik saya. Walaupun harus menunggu berjam-jam lamanya sebelum prosesi pernikahan dimulai, beliau dengan sabar menunggunya.
Seusai Ibu menerima kabar duka itu, Ibu pun bercerita tentang keseharian beliau di kampung. Di Payangan, Jro Mangku Kotá dikenal sebagai seorang sulinggih yang sangat disiplin. Selain sebagai seorang sulinggih, keseharian beliau juga disibukkan dengan kegiatan beliau sebagai Guru, disebuah SMA di Payangan. “Beliau adalah Guru yang disiplin” itu ungkapan Ibu. Tak perlu disangsikan lagi, banyak orang yang kagum terhadap beliau. Terlebih jika melihat kecakapan beliau menggunakan Genta, mengiringi alunan bait-bait mantra di setiap prosesi upacara agama. Sungguh memberi ketenangan batin.
Tags: agama hindu, galungan kuningan
Kemaren sore saat sedang santai di rumah, tiba-tiba ada seorang Ibu yang datang kerumah. Saya pun menghampiri sang Ibu, dan berikut percakapan kami:
Saya: Iya, Ibu cari siapa, bisa dibantu?
Ibu: Bapaknya ada?
Ibu: Begini, menjelang perayaan 17 Agustus biasanya warga disni mengecat tembok pembatas kebun dengan hitam putih. Nah nanti biar Saya saja yang mengecatnya..
Saya: Ya.. nanti Saya bicarakan dulu dengan Bapak, karena kebetulan Bapak sedang tidak ada di rumah
Saya: Nanti kalau memang butuh dicat pembatas kebunnya, Saya akan panggil Ibu
Tanpa basa-basi, sang Ibu pun lalu permisi dan berlalu menghampiri rumah lainnya. Sejenak Saya memperhatikan Ibu tersebut, yang berjalan menghampiri setiap rumah, mencoba menawarkan jasa mengecat tembok pembatas kebun.
“Jemput Bola“, itulah kata yang terlintas seketika. Seorang Ibu yang cuma menawarkan jasa mengecat, bisa memiliki inisiatif datang ke setiap calon pelanggannya, sungguh luar biasa buat Saya. Karena hal ini jarang sekali Saya lakukan. Padahal jasa yang Saya jual jauh diatas harga jasa mengecat yang ditetapkan si Ibu, yang tentunya membutuhkan sekedar usaha untuk dapat menjual jasa Saya.











