Inilah saatnya mewartakan kabar baik di tengah situasi muram di Tanah Air. Seorang putra bangsa ini dipahat namanya pada prasasti berusia 450 tahun di Universitas Leiden, Belanda. Ia adalah Anak Agung Gde Agung PhD (58), doktor di bidang konservasi biokultural dan pengembangan masyarakat.
Nama itu berada di urutan kesembilan, di bawah nama delapan tokoh terkemuka dunia yang menjadi pelopor di bidangnya masing-masing, di antaranya Winston Churchill, Nelson Mandela, dan Albert Einstein.
Kehormatan itu diberikan karena konsep Tri Hita Karana yang ia eksplorasi dalam disertasinya, Bali Endangered Paradise? Tri Hita Karana and the Conservation of the Island’s Biocultural Diversity, dinilai para profesornya di Universitas Leiden, Belanda, bersifat universal, dapat diterapkan di berbagai kebudayaan di dunia yang mengalami erosi.
Analisis yang ia kembangkan dapat mengidentifikasi dengan pasti masalah dan bagaimana solusinya. Disertasi itu meraih predikat excellent atau summa cum laude, sekaligus pioneering.
Predikat pionir diberikan sebab Anak Agung dianggap menemukan metode baru dalam penelitian antropologi, yaitu menguantitatifkan berbagai peubah yang selama ini diteliti secara kualitatif. Metodologi yang kuantitatif ini dianggap memberi terobosan, yaitu sebagai cara terbaik menganalisis status kebudayaan, mengidentifikasi dengan pasti sebab-sebab erosi, serta menganalisis dampak dan solusinya dengan tepat dan pasti.
Upacara penyerahan gelar seusai pengujian di depan 10 mahaguru itu menjadi istimewa karena Rektor Universitas Leiden Prof DD Breimer membacakan surat Ratu Beatrix yang dibawa utusan kerajaan untuk Anak Agung Gde Agung. Yang hadir pun mendengar isi pesan khusus tersebut.
Putra mahkota Kerajaan Belanda, Pangeran Willem Alexander, yang tak sempat datang saat promosi mengunjunginya di tempatnya menginap untuk memberi selamat dan kemudian merayakannya dengan makan siang bersama. Peristiwa itu terjadi tahun lalu.
“Saya hanya melakukan yang terbaik dari apa yang sedang saya lakukan,” ujarnya, ketika ditemui Kamis (1/2). Itulah satu diktum dari Tri Hita Karana yang ia hidupi dalam setiap tarikan napasnya.
“Setelah Ayah meninggal tahun 1999, banyak kewajiban beliau turun ke saya. Salah satunya adalah kebudayaan. Saya sangat prihatin melihat kebudayaan Bali yang semakin tererosi sehingga terdorong mencari sebab-sebab kehancuran, dampak, dan solusinya,” tuturnya.
Penelitian dan penulisan dilakukan selama tiga tahun. Ketika memulai, ia sebenarnya sudah 30 tahun meninggalkan dunia akademi dan lebih banyak sibuk di dunia usaha.
Anak pertama dari empat bersaudara putra Raja Gianyar, Bali, Ida Anak Agung Gde Agung itu lebih suka menyebut dirinya “kepala keluarga”, meskipun dia adalah pewaris langsung yang menggantikan ayahnya sebagai Raja Gianyar.
Penikmat musik klasik karya komponis, antara lain Mozart, Beethoven, dan Haydn, itu menghabiskan sebagian masa mudanya di luar negeri mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai diplomat. Itu juga yang membuatnya sempat ingin menjadi diplomat.
Berikut perbincangan tiga jam dengan Anak Agung Gde Agung di Jakarta.
Surga yang hilang
Seberapa seriusnya kondisi Bali sampai Anda menggunakan istilah “endangered Bali”?
Globalisasi modal dan ekonomi menyebabkan perubahan multidimensional dalam kehidupan orang Bali. Terjadi pergeseran signifikan terhadap dasar-dasar tradisional dari aspek sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan hidup.
Dampak pada dimensi ekonomi terlihat dari peraturan-peraturan pemerintah yang salah kaprah atau diselewengkan, seperti tata ruang yang tidak melindungi kawasan pertanian, desa dinas yang kerap bertentangan dengan desa adat, dan berbagai peraturan pertanahan yang melarang institusi tradisional, seperti desa adat memiliki tanah. Semua ini menimbulkan erosi terhadap kekhasan pola hidup orang Bali.
Pada dimensi kebudayaan, manifestasi globalisasi yang paling kentara adalah alih fungsi lahan pertanian untuk kepentingan pembangunan infrastruktur pariwisata. Tanah dengan pura-pura di atasnya memiliki arti sakral bagi masyarakat Bali karena berhubungan dengan penghormatan kepada nenek moyang, simbol agama, tradisi, dan adat istiadat lainnya.
Alih fungsi lahan menyebabkan eksodus petani dari desa ke kota dan sekaligus kevakuman di desa mendorong lenyapnya kehidupan komunal yang merupakan ciri khas masyarakat Bali berikut semua adat istiadat, ritual, dan upacara terkait. Dengan hilangnya tanah, hilang pula pilar-pilar kebudayaan Bali.
Beberapa dekade belakangan ini sekitar 1.000 hektar lahan setiap tahun berubah fungsi. Perusakan lingkungan hidup dan gaya hidup yang makin konsumtif merupakan dampak semua ini.
Erosi alam mengganggu kosmologi kepercayaan Bali. Data statistik memperlihatkan, 38 pantai di Bali tererosi masing-masing 125 meter kubik per tahun karena bangunan-bangunan yang mengabaikan peraturan garis sepadan pantai.
Erosi juga terjadi di semua sungai, terutama yang paling sakral, yaitu Sungai Ayung. Sungai itu pernah sukar mengalir akibat lumpur dari pembangunan di tepiannya dari hulu ke hilir. Padahal, agama Bali adalah agama tirta, sangat tergantung pada kejernihan air. Semua ini belum termasuk hilangnya 25.000 hektar hutan dalam satu dekade terakhir.
Keseimbangan dan pengekangan
Bagaimana menjawab tantangan multidimensional ini?
Berdasarkan pembuktian kuantitatif melalui metode regresi multivariate yang merupakan analisis korelasi kanonikal nonlinear berlandaskan penghitungan koefisien yang berkelipatan, disertasi ini membuktikan falsafah hidup Bali, Tri Hita Karana, merupakan wahana terbaik untuk melestarikan tradisi, adat istiadat, kebudayaan, serta alam Bali. Selain berporos kuat pada agama Hindu-Bali, Tri Hita Karana memiliki aspek multidimensional dan berakar pada agama serta simbol-simbol kosmologi.
Tri Hita Karana memberi panduan bagaimana manusia harus bersikap terhadap tiga hal, yakni hubungan manusia dengan manusia (pawongan), dengan alam sekelilingnya (palemahan), dan dengan ketuhanan (parahyangan) yang saling terkait, seimbang, dan harmonis antara satu dan lainnya, agar manusia dapat mencapai kesejahteraan berkelanjutan. Keseimbangan dan keterkaitan berarti pengekangan, memikirkan dampak perbuatan terhadap orang lain. Ini bersifat konservasi terhadap manusia maupun alam.
Bisa dijelaskan lebih jauh?
Tri Hita Karana mengidentifikasi norma, nilai, dan aturan yang harus ditaati. Dalam hubungan dengan sesamanya, disebut, antara lain karma pala. Apa yang kau lakukan terhadap orang lain akan berakibat pada diri sendiri. Ini ajaran keterkaitan.
Pelajaran lainnya tat twam asi, artinya kamu adalah saya, saya adalah kamu. Lalu, tri kaya parisudha, yakni kelurusan dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. Lagi-lagi keterkaitan, pengekangan diri juga. Ajaran lainnya, triwarga, keseimbangan antara keinginan, harta, dan etika. Semua ini merupakan pedoman penting dalam berperilaku.
Dalam hubungan dengan alam, Tri Hita Karana mengajarkan seluruh alam semesta termasuk manusia dan lingkungan hidup sekelilingnya sama-sama tunduk pada hukum rta yang ditentukan Sang Hyang Widi Wasa. Ini diperkuat kepercayaan bahwa bhuwana agung (makro kosmos, alam semesta) dan bhuwana alit (mikro kosmos, manusia dan dunianya) terbuat dari unsur yang sama, yaitu panca maha butha. Dalam alam semesta semua sederajat. Manusia harus menghormati alam serta semua unsur sekelilingnya.
Dalam hubungan dengan Tuhan-nya, Tri Hita Karana mengatakan, manusia diatur oleh konsep rna. Manusia berutang budi pada Sang Hyang Widi Wasa karena mereka diciptakan oleh-Nya. Ini harus diperlihatkan dengan tindakan pengorbanan (bakti) dalam serangkaian ritual dan upacara yang disebut yadnye.
Namun, semua itu terkikis. Pembakaran jenazah, odalan, upacara di pura yang memerlukan partisipasi banyak orang, dulu dilakukan tanpa pamrih. Sekarang bukan saja fungsi-fungsi ini tak dilakukan, kalaupun dilakukan dengan pembayaran.
Bagaimana menerapkannya dalam keseharian?
Konsep-konsep itu didukung institusi tradisional Bali, seperti desa adat, banjar, dan subak yang semuanya merupakan cerminan dari Tri Hita Karana. Masing-masing memiliki tempat persembahyangan (manifestasi konsep parahyangan), anggota (pawongan) dan areal di mana institusi itu berada (palemahan). Institusi-institusi itu memiliki awig-awig (rangkaian hukum) yang menentukan aturan yang berlaku di dalam institusinya, dalam hubungan antarmanusia, hubungan dengan Tuhan dan alam sekelilingnya.
Dalam disertasi saya, saya mengatakan, sebagian besar kebudayaan Bali sudah menuju tahap erosi. Aspek hubungan manusia dengan alam terjadi erosi parah, sekitar 60 persen, antara manusia dengan manusia telah rusak antara 40-45 persen, tetapi hubungan dengan Tuhan masih kuat, antara 90-95 persen. Perilaku dan ajaran Bali masih cukup kuat.
Bagaimana menjawab tuntutan zaman tanpa merusak nilai-nilai dasar orang Bali?
Falsafah desa kala patra mengajarkan untuk tidak keukeuh pada masa lalu. Fleksibel, artinya tidak meninggalkan pilar- pilar hakiki kebudayaan kita karena semua aspek kebudayaan kita adalah jati diri kita, tetapi kita harus bisa mengambil yang baik dari masa-masa yang berbeda itu.
“Tri Hita Karana” dan Pariwisata Indonesia
Pengembangan pariwisata Indonesia, menurut Anak Agung Gde Agung, bersifat instan, jangka pendek, tidak meningkatkan alam dan kebudayaan setempat, justru merusaknya.
Padahal, asas mendasar dari pariwisata adalah kekhasan dan keunikan budaya maupun alamnya. “Kalau tujuannya memenuhi segala macam selera wisatawan, yang terjadi everything to everybody, dan akhirnya nothing to anybody,” ujarnya.
Kebudayaan dan alam adalah dua sisi dari satu mata uang. Antropolog Darrel Posey mengatakan adanya inextricable link antara budaya dan alam. Dalam Tri Hita Karana keterkaitan ini sangat jelas.
Dengan Tri Hita Karana, wisatawan yang datang adalah yang memperkuat budaya kita. Masyarakat bangga akan budayanya dan akan terus memperkuatnya. Ini mengundang lebih banyak lagi wisatawan. Itulah avalanche effect, bahasa antropologi untuk snowballing effect. Pariwisata harus digunakan sebagai agen untuk memperkuat itu semua.
Yang penting adalah branding dan positioning dalam kebudayaan. Indonesia, tak punya itu, lari kiri, lari kanan, kata Anak Agung Gde Agung. Uang bukan alasan untuk tidak bisa promosi. Konsentrasi saja pada enam negara asal 73 persen dari jumlah wisatawan ke Indonesia..
Di Indonesia ada sekitar 20-an lokasi pariwisata yang punya potensi taraf dunia. Enam (di luar Bali) yang siap diangkat adalah Bromo, Borobudur, Bunaken, Toraja, Komodo dan Ujung Kulon. Akan tetapi, tak banyak yang datang ke sana karena infrastruktur tidak mendukung dan kerusakan yang seharusnya tidak terjadi.
Untuk menghadapi globalisasi, wahana terbaik adalah yang berasaskan kebudayaan karena budaya memiliki asas-asas hakiki. “Kalau dipraktikkan, kita membuat pilihan sendiri. Kita mengontrol proses perubahan, dan itu berarti kita menentukan nasib kita sendiri,” kata Anak Agung Gde Agung.
Maria Hartiningsih & Ninuk Mardiana Pambudy
Dikutip dari Indo-Emirates – Forum Silahturahmi Masyarakat Indonesia di Ruwais Abu Dhabi United Arab Emirates.

Search terms:tri hita karana, Anak Agung Gde Agung, anak agung gede agung, pengertian tri hita karana, pengertian subak, konsep tri hita karana, dr anak agung gde agung, dampak positif tri hita karana, hubungan agama hindu dengan pariwisata, tri hita karana bali, tri hita karana dalam pariwisata, TRIHITA KARANA, trihitakarana, apa itu tri hita karana, FUNGSI TRI HITA KARANA, tri hita karana di bali, hubungan tri kaya parisudha dengan tat twam asi, Konsep universal hindu dalam tri kaya parisudha, lambang tri hita karana, penelitian tri hita karana
Tags: Bali, Tri Hita Karana












Globalisasi telah membuat cakar-cakar kaum imperialis ekonomi mencengkram Bali, rakyat Bali semakin termarginalkan dari kegiatan ekonomi strategis, Pariwisata menjadi milik mereka yang bermodal besar, mereka yang telah mengeksploitasi Bali dari segala lini.
Bangkitlah generasi muda Bali….!
saya mendukung pemikiran luhur beliau demi indonesia yang lebih baik dan bali pada khususnya.. kalo semua di bebaskan kemana indonesia nanti ????
Saya sangat setuju pemikiran yang amat universal ini, mudah-mudahan kedepan semua pihak insyaf akan hal ini sehingga masyarakat menjadi rukun aman damai.
Mohon dibantu kirimkan saya email bapak Anak Agung Gede Agung karena saya ingin dikirimi shop copy disertasinya beliau
@all: sudah selayaknya kita bangga dan membanggakan Indonesia.
@I Made Sadha Suardikha: untuk saat ini, alamat email beliau saya tidak punya. Namun saya usahakan untuk bantu mencarikannya.
Kepada Yth, gwawan
di tempat.
Dengan Hormat , bersamaan dengan ini kami memerlukan bantuan bapak atau ibu untuk mendapatkan copy Disertai dari DR. Anak Agung Gde Agung . Karena kami sangat membutuhkan disertasi tersebut guna keperluan RPJP (Rancana Pembangunan Jangka Panjang) Kodya Denpasar – Bali , serta Memperdalam kasanah Ilmu mengenai Tri Hita Karana .
ali Endangered Paradise.
Kami hohon bantuannya dengan sangat , sebab kami sudah tidak tahu harus mendapatkan copy atau Buku tersebut Yang berjudul
Demikian yang dapat kami sampaikan , atas pehatiannya dan bantuannya kami mengucapkan banyak terimakah .
Hormat saya ,
(A.A.G.Putra Chandra Adi Brata , SE)
Yang Terhormat Bapak Anak Agung Gde Agung
Saya salah satu staf pengajar FE jurusan Akuntansi Unud-Bali, saya saat ini saya sedang studi di Unibraw-malang. Saya saat ini sedang mengkaji akuntanbilitas pengelola keuangan Daerah. Saya lahir dan besar di Bali saya sangat tertarik dan merasa nyaman dengan konsep – konsep kehidupan di Bali. sebagaimana saya sadari dan mungkin kita semua menyadari alat-alat atau media pertanggungjawab sudah di-design dengan biaya yang begitu mahal yang kita kenal sistem pertanggungjawaban (responsibility system)belum sepenuhnya mampu mencegah kecurangan ataupun pelanggaran. berkaitan dengan hal ini, nampaknya kita memerlukan hal yang lebih esensial bukan sekedar pertanggungjawaban karena banyak hal yang bisa direkayasa oleh manusia. Di satu sisi kita hidup bukan hanya bertanggungjawab pada sesama manusia (atasan ataupun rekan sejawat) namun juga bertanggungjawab kepada “Sang Pencipta”. Hal esensial yang saya maksud tersebut adalah akuntabilitas (aspek prilaku manusia). Menurut pandangan saya akuntabilitas bukanlah sekedar pertanggungjawaban kita pada sesama manusia tetapi juga pertanggungjawaban kita kepada “Sang Pencipta”. Mohon Maaf Bapak, bisakah Bapak sharing? Bagaimana pandangan Bapak mengenai hal ini dari konsep Tri Hita Karana?
Mohon maaf sekali lagi Bapak jika bapak berkenan sangat saya harapkan masukan dari Bapak. Dan saya sangat ingin membaca BUAH KARYA BAPAK YANG SANGAT LUAR BIASA, di manakah bisa saya dapatkan? Matur Suksma Banget Bapak.
Hormat saya
Bambang Suprasto
Dari paparan sekilas diatas dengan sedih saya katakan bahwa saya juga merasakan kehawatira bliau. Sekarang saya baru mau mulai program S3 di Universitas Indonesia. Sebelumnya saya berniat untuk menulis mengenai Tri Hita Karana sebagai falsafah hukum Indonesia melengkapi Pancasila. Belakangan karena tesis saya mengenai Madiasi sebagai sarana penyelesaian sengketa secara damai di luar pengadilan (yang merupakan substansi Perbandingan Hukum antara Hukum Indonesia dan Hukum Singapura), saya berniat menggali tentang keselarasan falsafah mediasi dengan falsafah Pancasila. Setelah membaca tulisan diatas saya kembali terusik untuk menggali falsafah Tri Hita Karana dan menyodorkannya untuk diadopsi dan dijadikan falsafah negara, dan oleh karenanya falsafah hukum, melengkapi Pancasila. Any idea from anyone? Bpk DR.Anak Agung Gde Agung if you see this message I would be grateful if you could respond. I would very much like to be in touch with you. I remember meeting you twice, once at the Bank when I serve as Director before your appointment as Minister, and the other time when you serve as a Minister of Tourism and Culture under the Presidency of Megawati Sukarnoputri. I would be happy if I could hear from you. Regards.